March 29, 2009

29 Maret 2009, adalah hari perkawinan saya dengan istri saya. Dan pada bulan Maret juga saya berulang tahun untuk yang ke-29 kalinya.
Kerap istri bertanya hadiah apa yang saya inginkan untuk hari ulang tahun saya. Terus terang saya sulit menjawab karena untuk masalah benda saya tidak terlalu memerlukan apa-apa dan terlebih lagi kehadiran istri saya sudah terlalu cukup buat saya mensyukuri bertambahnya usia saya.
Tak terduga kalau ternyata Tuhan punya rencana dan hadiah yang indah buat kita berdua, sebuah insan kecil yang berada dalam rahim istri saya. Usianya baru 6 minggu ketika kami berdua memeriksakan ke dokter kandungan. Hadiah yang sangat indah di hari pernikahan pertama kami.
Doaku agar janin didalam rahim istriku bisa tumbuh dengan sehat. Thanks GOD … !!!
Categories: Daily Life, Event.
Tags: baby
March 22, 2006
Hari ini tanggal 23 Maret 2006, saya diwisuda untuk gelar master engineering. Bangun jam 7:30 pagi, merenungkan dan mengucap syukur bahwa Tuhan telah menuntun saya dalam menjalankan kehidupan research selama 2 tahun. Mempersiapkan kemeja dan jas, keluar rumah sementara cuaca hari ini mendung, jalan-jalan masih basah karena hujan kemarin malam. Tiba di kampus, suasana marak mahasiswa dengan wajah yang ceria menunggu saat-saat wisuda. Beberapa ditemani orangtuanya, beberapa berpakaian kimono, beberapa berpakaian toga, sebagian besar menggunakan jas, atau bahkan ada juga yang berpakaian casual. Di jepang, memang tidak ada keharusan untuk menggunakan toga ketika acara wisuda dan suasana wisudanya pun tidak lebih meriah daripada suasana wisuda di Amrik atau Indonesia. Apalagi kalau dibandingkan di Indonesia, dimana keluarga atau bahkan satu kampung bisa datang untuk merayakan seorang anak yang lulus dari universitas ternama
Memasuki ruang Yasuda Hall, ruangan terbesar di tengah-tengah kampus The University of Tokyo, suasana berubah menjadi hikmat dan hening. Ruangan yang bertingkat dua ini penuh dengan mahasiswa2 yang akan diwisuda. Karena tidak ada tempat duduk di tingkat 1, saya memutuskan untuk mengambil tempat di lantai 2. Acara dimulai dengan paduan suara, kemudian prof. tiap fakultas memasuki podium, memberikan sambutan dan kemudian tiap-tiap mahasiswa terbaik menerima surat ijazah langsung dari dekan universitas. Acara yang berlangsung kurang lebih 1 1/2 jam itu selesai … 2 tahun perjalanan yang panjang … tak terasa begitu cepat.
Beberapa pesan yang disampaikan oleh dosen pembimbing saya tentang arti makna sebuah ijazah.
- Pertama, ijazah diibaratkan sebagai sebuah “SIM”, suatu tanda pengenal jati diri dari hasil sebuah pembelajaran dan latihan yang dijalani beberapa tahun. (Di jepang untuk mendapatkan SIM perlu mengambil 30 jam mata pelajaran teori dan 30 jam mata pelajaran praktek berikut dengan tes dan biaya yang sangat besar). “SIM” juga merupakan salah satu titik awal kita untuk bisa menaiki “kendaraan” agar dapat melangkah lebih jauh dan lebih cepat.
- Kedua, ijazah merupakan suatu tanda darimana kita belajar menempa ilmu. Dari tanda ini kita membawa suatu misi, visi yang ditanamkan selama kita menuntut ilmu. Sebagai suatu ilmuwan kita dituntut untuk memiliki pemikiran yang logis, jiwa yang bersih, moral yang bertanggung jawab untuk menghadapi tantangan yang akan kita hadapi ketika terjun ke masyarakat.
- Ketiga, ijazah merupakan “kwitansi” dari harga yang kita bayar dalam menuntut ilmu. Suatu tanda penghargaan untuk setiap insan yang membantu kita mendapatkan gelar tersebut, baik itu orang tua yang membesarkan kita dan terus menunjang kita dalam doa, dosen dan pengajar yang senantiasa membimbing kita, sahabat-sahabat yang mendukung kita dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari, kekasih kita yang memberikan curahan kasih sayang, negara atau badan-badan sosial yang memberikan kita kesempatan mendapatkan beasiswa dan terlebih lagi kepada Tuhan yang memberikan kita hidup, kesempatan dan talenta untuk dapat menyelesaikan pendidikan.
Di depan telah menanti tantangan dan tanggung jawab yang lebih besar.
Categories: Event.
Tags: university, wisuda
March 1, 2006
YMCA merupakan sebuah lembaga Non-goverment Organization (NGO) yang menghimpun sukarelawan wanita untuk saling membantu sesama dan mempromosikan perdamaian dan keadilan bagi para anggotaNya di seluruh dunia. Salah satu gerakan dari Tokyo YMCA yang cukup dikenal dalam kalangan mahasiswa asing adalah gerakan orang tua asuh bagi mahasiwa asing (Japanese Mothers for Internasional Students Movement). Setiap tahunnya para ibu yang mendaftarkan diri akan mengangkat mahasiswa asing sebagai anaknya dan memberikan bantuan, konseling dan juga memperkenalkan budaya Jepang melalui hubungan keluarga.
Saya diangkat menjadi salah satu keluarga ibu Ooyama, 6 tahun yang lalu. Saat itu, ibu yang masih relatif muda ini memiliki 2 anak wanita yang bernama Yuri (6 tahun) dan Kie (4 tahun). Anak-anaknya sangat aktif dan riang sekali. Mereka sangat senang jika saya berkunjung ke rumahnya di daerah Tamagawa. Karena kesulitan untuk menyebutkan nama saya, mereka biasa memanggil saya dengan sebutan “No-kun” diambil dari penggalan nama soetris-”No”, karena kata soetris dalam bahasa jepang harus diucapkan dengan kata “Suturisu” yang relatif sulit untuk dilafal.
Setelah masuk ke universitas terutama ketika masuk ke lab, kesibukan2 research menyulitkan saya untuk berkunjung ke rumah mereka. Saya coba untuk tetap keep contact dengan email atau kartu pos ucapan tahun baru. Kebetulan hari ini di gedung Tokyo YMCA diadakan acara syukuran untuk mahasiswa2 yang telah lulus dan melalui kesempatan ini saya dapat bertemu kembali setelah selang 2 tahun tidak bertemu. Ibu Ooyama banyak bercerita tentang Yuri dan Kie juga tentang anak2 mahasiswa asuh lainnya. Saya juga bercerita banyak tentang kehidupan mahasiswa dan juga rencana kehidupan saya selanjutnya di Jepang.
Ada satu hal yang mengembirakan ibu Ooyama. Dalam acara tersebut, saya bertemu dengan teman lama saya dari Nigeria, dan dia membawa juga istrinya, ketika bertemu dengan saya yang didampingi ibu Ooyama, teman saya berkata “Soetris, apakah itu temanmu (sambil mengerlingkan mata)?”. Dikiranya ibu Ooyama itu, pacar saya … hahahaha. Langsung saja saya menerangkan kepada teman saya kalau dia adalah ibu asuh saya. Menanggapi pertanyaan itu, ibu Ooyama tersenyum dan senang sekali karena masih terlihat seperti anak muda. Mungkin resep awet muda Ibu Ooyama karena rajin berolahraga dan aktif dalam kegiatan2 YMCA atau karena saya yang terlihat agak tua
Categories: Event.