Ashita no Kioku "Memories of Tomorrow"

Ashitanokioku_1Ashita no Kioku” Memories of Tomorrow

Japanese
Director Yukihiko Tsutsumi
Starring Ken Watanabe, Kanako Higuchi
Length 122 mins
Catergory Drama

Ken Watanabe (Last Samurai, Memoirs of a Geisha) memerankan seorang businessman yang sukses dan akhirnya menemukan bahwa dirinya menderita penyakit Alzheimer. Penyakit Alzheimer ini membuat dirinya sulit untuk mengingat bahkan hal-hal yang sederhana pun. Waktu berjalan dari hari-hari, membuat ingatannya semakin memburuk dan akhirnya dia harus mengundurkan diri dari pekerjaannya dan kehilangan semua kesuksesannya. Kanako Higuchi pun sukses membawakan perannya sebagai istri yang terus mendukung suaminya bahkan disaat-saat yang sangat sulit sekalipun.

Film dengan durasi 2 jam ini membawa anda dalam suatu suasana yang mengharukan dan memberikan pesan “Hidup adalah suatu Anugrah”, dan tiada yang lebih indah daripada setia untuk terus mencintai.

Ken Watanabe dengan baik memerankan peran ini karena dia pun pernah terkena penyakit leukimia sehingga harus beristirahat beberapa tahun dari dunia perfilman. Di sela-sela kesibukannya, dia menyempatkan membaca novel kisah dari film ini dan berkeinginan untuk memfilmkan novel ini. Ini adalah film pertama dimana dia juga terlibat langsung dalam mensutradarai film ini.

Saya mengetaui film ini ketika saya menonton dokumentari tentang penyakit Alzheimer dan melihat perjuangan hidup orang-orang yang ditopang oleh kasih sayang orang-orang di dekatnya. Saya cukup sering menonton film-film human story dan film ini merupakan salah satu film terbaik yang pernah saya tonton.

Wisuda master @ University of Tokyo

Wisuda Hari ini tanggal 23 Maret 2006, saya diwisuda untuk gelar master engineering. Bangun jam 7:30 pagi, merenungkan dan mengucap syukur bahwa Tuhan telah menuntun saya dalam menjalankan kehidupan research selama 2 tahun. Mempersiapkan kemeja dan jas, keluar rumah sementara cuaca hari ini mendung, jalan-jalan masih basah karena hujan kemarin malam. Tiba di kampus, suasana marak mahasiswa dengan wajah yang ceria menunggu saat-saat wisuda. Beberapa ditemani orangtuanya, beberapa berpakaian kimono, beberapa berpakaian toga, sebagian besar menggunakan jas, atau bahkan ada juga yang berpakaian casual. Di jepang, memang tidak ada keharusan untuk menggunakan toga ketika acara wisuda dan suasana wisudanya pun tidak lebih meriah daripada suasana wisuda di Amrik atau Indonesia. Apalagi kalau dibandingkan di Indonesia, dimana keluarga atau bahkan satu kampung bisa datang untuk merayakan seorang anak yang lulus dari universitas ternama :)
Memasuki ruang Yasuda Hall, ruangan terbesar di tengah-tengah kampus The University of Tokyo, suasana berubah menjadi hikmat dan hening. Ruangan yang bertingkat dua ini penuh dengan mahasiswa2 yang akan diwisuda. Karena tidak ada tempat duduk di tingkat 1, saya memutuskan untuk mengambil tempat di lantai 2. Acara dimulai dengan paduan suara, kemudian prof. tiap fakultas memasuki podium, memberikan sambutan dan kemudian tiap-tiap mahasiswa terbaik menerima surat ijazah langsung dari dekan universitas. Acara yang berlangsung kurang lebih 1 1/2 jam itu selesai … 2 tahun perjalanan yang panjang … tak terasa begitu cepat.

Beberapa pesan yang disampaikan oleh dosen pembimbing saya tentang arti makna sebuah ijazah.

  • Pertama, ijazah diibaratkan sebagai sebuah “SIM”, suatu tanda pengenal jati diri dari hasil sebuah pembelajaran dan latihan yang dijalani beberapa tahun. (Di jepang untuk mendapatkan SIM perlu mengambil 30 jam mata pelajaran teori dan 30 jam mata pelajaran praktek berikut dengan tes dan biaya yang sangat besar). “SIM” juga merupakan salah satu titik awal kita untuk bisa menaiki “kendaraan” agar dapat melangkah lebih jauh dan lebih cepat.
  • Kedua, ijazah merupakan suatu tanda darimana kita belajar menempa ilmu. Dari tanda ini kita membawa suatu misi, visi yang ditanamkan selama kita menuntut ilmu. Sebagai suatu ilmuwan kita dituntut untuk memiliki pemikiran yang logis, jiwa yang bersih, moral yang bertanggung jawab untuk menghadapi tantangan yang akan kita hadapi ketika terjun ke masyarakat.
  • Ketiga, ijazah merupakan “kwitansi” dari harga yang kita bayar dalam menuntut ilmu. Suatu tanda penghargaan untuk setiap insan yang membantu kita mendapatkan gelar tersebut, baik itu orang tua yang membesarkan kita dan terus menunjang kita dalam doa, dosen dan pengajar yang senantiasa membimbing kita, sahabat-sahabat yang mendukung kita dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari, kekasih kita yang memberikan curahan kasih sayang, negara atau badan-badan sosial yang memberikan kita kesempatan mendapatkan beasiswa dan terlebih lagi kepada Tuhan yang memberikan kita hidup, kesempatan dan talenta untuk dapat menyelesaikan pendidikan.

Di depan telah menanti tantangan dan tanggung jawab yang lebih besar.

Ski @ Hakuba Goryu & Hakuba 47

Hakuba Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba, hari Kamis malam (03/07) Saya beserta rombongan dari Lab (17 orang cowok) berangkat dengan bis malam dari Shinjuku, Tokyo menuju ke Hakuba Goryu, Nagano. Tempat Ski dengan ketinggian sekitar 2600 meter ini pernah menjadi salah satu ajang penyelenggarakan Nagano Winter Olympics 1998 karena daerahnya yg luas, course ski-nya cukup beragam plus jumlah ski trail, gondola (ski trail tertutup yang jangkauannya cukup panjang) yang cukup banyak. Setelah perjalanan selama 7 jam lebih tibalah kami di tempat penginapan jam 5 pagi. Karena kursi bus yang cukup sempit membuat saya tidak dapat tertidur selama perjalanan membuat badan saya cukup penat dan ngantuk.

Setelah makan pagi, dan meminjam peralatan ski, membeli karcis terusan untuk ski trail, saya dan teman-teman memulai untuk bermain. Saya memilih untuk bermain ski bersama 3 teman lainnya, yang lainnya memilih bermain snowboard (beberapa tahun terakhir snowboard cukup nge-trend). Cuaca hari itu berawan, suhu -4 derajat celcius, kondisi salju cukup baik, dan karena hari jum’at jumlah orang yang bermain cukup sedikit. Saya bermain ski setahun sekitar 1 kali, mungkin ini kedelapan kalinya saya bermain ski. 2 jam pertama saya habiskan bermain di daerah landai untuk merecall kembali permainan ski lalu saya dan teman-teman langsung naik gondola ke puncak gunung untuk bermain ke daerah yang lebih menantang :) Yah, bermain ski itu menyenangkan ( kalau bisa .. hehehe ) senang melihat hamparan salju yang putih, cuaca yang dingin tapi tidak terasa dingin (karena kita bergerak terus, bahkan bisa berkeringat), kesempatan buat sport jantung karena meluncur dengan kecepatan tinggi di daerah terjal sementara kalau salah sedikit samping kiri kanan jurang (kalau ga hati2 resikonya patah tangan atau kaki).

Setelah bermain hingga jam 4 sore, balik ke penginapan, makan malam dan tidur jam 9-an untuk simpan energi buat besoknya. Besoknya bermain sekitar 5 jam kemudian balik ke Tokyo dan tiba sekitar jam 10 malam. Mungkin tahun depan bisa main ski kembali dengan rekan-rekan gereja sambil belajar untuk mengasah kemampuan agar bisa bermain didaerah yg lebih terjal. Sekarang yang kerasa badan masih pegel-pegel sementara masih kudu lab dan tulis skripsi :)

Tokyo Young Women’s Christian Association (YWCA)

OkasanYMCA merupakan sebuah lembaga Non-goverment Organization (NGO) yang menghimpun sukarelawan wanita untuk saling membantu sesama dan mempromosikan perdamaian dan keadilan bagi para anggotaNya di seluruh dunia. Salah satu gerakan dari Tokyo YMCA yang cukup dikenal dalam kalangan mahasiswa asing adalah gerakan orang tua asuh bagi mahasiwa asing (Japanese Mothers for Internasional Students Movement). Setiap tahunnya para ibu yang mendaftarkan diri akan mengangkat mahasiswa asing sebagai anaknya dan memberikan bantuan, konseling dan juga memperkenalkan budaya Jepang melalui hubungan keluarga.

Saya diangkat menjadi salah satu keluarga ibu Ooyama, 6 tahun yang lalu. Saat itu, ibu yang masih relatif muda ini memiliki 2 anak wanita yang bernama Yuri (6 tahun) dan Kie (4 tahun). Anak-anaknya sangat aktif dan riang sekali. Mereka sangat senang jika saya berkunjung ke rumahnya di daerah Tamagawa. Karena kesulitan untuk menyebutkan nama saya, mereka biasa memanggil saya dengan sebutan “No-kun” diambil dari penggalan nama soetris-”No”, karena kata soetris dalam bahasa jepang harus diucapkan dengan kata “Suturisu” yang relatif sulit untuk dilafal.

Setelah masuk ke universitas terutama ketika masuk ke lab, kesibukan2 research menyulitkan saya untuk berkunjung ke rumah mereka. Saya coba untuk tetap keep contact dengan email atau kartu pos ucapan tahun baru. Kebetulan hari ini di gedung Tokyo YMCA diadakan acara syukuran untuk mahasiswa2 yang telah lulus dan melalui kesempatan ini saya dapat bertemu kembali setelah selang 2 tahun tidak bertemu. Ibu Ooyama banyak bercerita tentang Yuri dan Kie juga tentang anak2 mahasiswa asuh lainnya. Saya juga bercerita banyak tentang kehidupan mahasiswa dan juga rencana kehidupan saya selanjutnya di Jepang.

Ada satu hal yang mengembirakan ibu Ooyama. Dalam acara tersebut, saya bertemu dengan teman lama saya dari Nigeria, dan dia membawa juga istrinya, ketika bertemu dengan saya yang didampingi ibu Ooyama, teman saya berkata “Soetris, apakah itu temanmu (sambil mengerlingkan mata)?”. Dikiranya ibu Ooyama itu, pacar saya … hahahaha. Langsung saja saya menerangkan kepada teman saya kalau dia adalah ibu asuh saya. Menanggapi pertanyaan itu, ibu Ooyama tersenyum dan senang sekali karena masih terlihat seperti anak muda. Mungkin resep awet muda Ibu Ooyama karena rajin berolahraga dan aktif dalam kegiatan2 YMCA atau karena saya yang terlihat agak tua :)

Livedoor -Fading Glory-

Livedoor Sudah melihat sampul depan TIME Asia edisi 30 Januari 2006? Disana ada wajah mantan CEO Livedoor jepang “TAKAFUMI Horie” yang dijepang lebih dikenal dengan nama “Horiemon” salah satu ikon pelopor kebangkitan IT jepang.

Siapa sih Horie ? DI tahun 1996, dia mengundurkan diri dari Univ. of Tokyo, salah satu universitas terbaik di jepang utk memulai usaha website consultant yang dinamakan Livin’ on the Edge. Memasuki bursa saham pada tahun 2000 dan mengganti nama menjadi Livedoor setelah mengakusisi perusahaan portal situs tersebut. Dalam jangka waktu 5 tahun, dia berhasil mengembangkan usahanya dengan strategi M&A(Merger and Acquisitions) menjadi 27 perusahaan dengan tingkat investasi lebih dari 22 kali lipat. Strategi yang dijalankan adalah membagi-bagi jumlah kepemilikan saham sehingga mempermudahkan investor utk memiliki saham tersebut. Kemudahaan memiliki saham ini yang mendorong harga saham Livedoor menjadi berlipat-lipat. Bayangkan hanya dengan uang 500 yen (sekitar Rp 40,000) , anda bisa menjadi pemilik saham Livedoor !

Di dalam usianya yang tergolong masih muda 33 tahun, dia mampu mewujudkan beberapa mimpinya bahkan memiliki ambisi untuk membuat kerajaan IT yang mampu disejajarkan dengan Yahoo. Horie mampu merebut hati para gererasi muda yang ambisius dengan gebrakan-gebrakan strategi bisnisnya yang menjadi sensasi tersendiri dalam dunia investasi jepang. Di tahun 2004, Horie berusaha membeli team baseball “kintetsu buffaloes”. Tahun 2005, berusaha merebut Nippon Broadcasting, salah satu anak perusahaan televisi komersial terbesar di Jepang. Bahkan pada bulan Agustus 2005, menjadi salah satu kandidat senat politik dalam kampanye PM Koizumi walau akhirnya kalah. Tak pelak lagi, pamor horie menjadi meningkat yang sekaligus juga mempromosikan perusahaan Livedoor.

Namun beberapa hari terakhir koran2 di Jepang diramaikan oleh berita penangkapan Horie karena tuduhan skandal laporan keuangan palsu yang memulai era runtuhnya kerajaan Livedoor. Demi mendongkrak harga saham Livedoor yang digunakan untuk mengakusisi perusahaan-perusahaan lainnya, Horie membuat laporan palsu keuangan. Perusahaan yang seharusnya merugi bisa direkayasa menjadi untung. Tim investigasi khusus akhirnya berhasil menguak kecurangan ini dan hanya dalam beberapa hari, Horie ditangkap dan dipenjarakan. Harga saham yang sempat naik pada harga 780 yen, jatuh lebih dari 80% menjadi 155 yen hanya dalam satu minggu. Peristiwa ini mengakibatkan paniknya investor-investor sehingga menjual saham-saham IT dan saham-saham lainnya. Efek “Livedoor Shock” ini merambat ke indeks bursa saham Nikkei yang merosot sampai 6 % dan juga bursa saham-saham di dunia.

Mmmhh … sepertinya sudah cukup panjang saya coba merangkum kejadiannya ini. Seperti yang tadi saya uraikan harga saham livedoor begitu murah, dan harganya yang makin hari ke hari meningkat plus sistem infra di jepang yang memudahkan kita untuk dapat bertransaksi saham di internet menarik investor-investor seperti mahasiswa, ibu-ibu rumah tangga, pekerja kantor untuk menginvestasikan uangnya di Livedoor. Saya juga pernah menanamkan saham di livedoor 1 tahun lalu ketika Livedoor berusahan mengambil kepemilikan Nippon Broadcasting. Kalau saya memilikinya 1 minggu yang lalu …. bagaimana jadinya ???

« Previous Page